Bertemu untuk Bertukar Ilmu : Departemen Sosiologi UKSW dan Departemen Sosiologi Fisipol UGM

Senin, 20 Maret 2017, Departemen Sosiologi kedatangan tamu dari Departemen Sosiologi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga. Empat puluh tiga mahasiswa(i) Sosiologi UKSW diterima oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Sosiologi, KMS, di Ruang Seminar Timur. Sementara itu, Pengurus Departemen Sosiologi UGM menjamu Perwakilan Pengurus Sosiologi UKSW di Ruang Pertemuan Departemen. Obrolan sore berlangsung hangat dan informal dengan beberapa topik sentral yang menjadi pembahasan. Hakimul Ikhwan, Ph.D selaku sekretaris Departemen Sosiologi UGM mengungkapkan, “Perbincangan meliputi poin – poin seperti kurikulum, kegiatan mahasiswa, dan beberapa isu terkini dalam sosiologi” Sementara itu, dalam wawancara terpisah dengan Tim Media Departemen Sosiologi UGM, Ketua Program Studi Sosiologi UKSW, Ir.Royke Siahainenia, M.Si,  mengungkapkan beberapa poin penting, “Kami sepakat untuk mendorong mahasiswa semakin produktif menulis, oleh karena itu kehadiran Jurnal Sosiologi menjadi sangat penting.”

Di sudut yang lain, suasana Ruang Seminar Timur tampak riuh oleh gelak dari dua kelompok almamater yang berbeda. Semata – mata, masing – masing menjadi serupa oleh karena tujuan baik yang dikelola untuk menambah pengetahuan dan pengalaman. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Panitia dari UKSW, Mahendra Jayaluma,“Kunjungan ini merupakan salah satu peristiwa untuk berbagai pengetahuan terkait dengan bidang kajian sosiologi dari masing – masing universitas.” Dalam sambutannya, Mahendra menambahkan bahwa pertemuan sore itu merupakan satu usaha untuk mengakumulasi gagasan dan pemikiran sosiologi agar mahasiswa semakin tajam dalam melakukan analisis sosial. Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Hilmi, perwakilan dari KMS (Keluarga Mahasiswa Sosiologi), “Ini adalah sebuah kunjungan untuk mengetahui pengalaman masing – masing Himpunan Mahasiswa dalam mengelola kegiatan berbasis cara pandang sosiologis,” serunya pada Tim Media di sela – sela riuh rendah diskusi di Ruang Seminar Timur.

Diskusi diawali dengan presentasi dari KMS terkait dengan pengelolaan himpunan di setiap divisi. Setelah itu dilanjutkan dengan sesi berbagi cerita soal bagaimana pengelolaan kegiatan – kegiatan himpunan dan bentangan cakrawala sosiologis baik dari pengalaman teman – teman dari UKSW maupun dari UGM sendiri. Mahendra berharap perjumpaan seperti ini akan terus berlanjut di berbagai dimensi, ujarnya “Hubungan Sosiologi UGM dan Sosiologi UKSW tidak berhenti di sini saja, harapannya ada komitmen untuk memajukan Sosiologi di Indonesia.” Di lain sisi, Hilmi menambahkan, “Persahabatan Sosiologi UGM dan UKSW baiknya berlangsung juga dalam kehidupan sehari – hari, dan di level yang paling kecil, misalnya suatu saat nanti gantian kami yang akan berkunjung ke Salatiga.” Pertukaran pengetahuan yang optimistis semacam ini memang menjadi strategis ketika masing – masing dapat melakukan pemetaan secara sosiologis sebaran pengetahuan, sehingga satu dan yang lain akan saling memperkaya. Harapannya, pengayaan tersebut akan berkontribusi pada peningkatan produktivitas yang akan mendongkrak karya – karya ilmiah di bidang kajian sosiologis. Ke depannya, proses inilah yang akan menjadikan sosiologi di Indonesia semakin berkembang.

Hal serupa juga menjadi perhatian dari obrolan di Ruang Pertemuan Departemen sore itu. Pengurus Departemen Sosiologi UGM dan UKSW sepakat untuk mendorong mahasiswa semakin giat menulis sehingga cara pandang dapat berkembang strategis, pun ilmu sosiologi. Untuk itu, salah satu muara yang penting untuk diperhatikan adalah kehadiran Jurnal Ilmiah yang menerbitkan tulisan – tulisan sosiologis dan dikelola oleh Departemen Sosiologi dari masing – masing Universitas. Muara ini dapat menjadi arena praktik “lapangan” dalam dunia tulis menulis, selain lapangan, sebagai laboratorium penelitian mahasiswa sosiologi.

Pertemuan demikian, pada dasarnya menjadi satu peristiwa knowledge transfer yang signifikan dalam suasana cair dan penuh gelak tawa. Sehingga, sosiologi terasa semakin dekat dan lekat dengan kehidupan sehari – hari yang belakangan makin kompleks. Optimisme untuk terus memproduksi pengetahuan perlu terus dikelola dengan baik untuk menjaga kewarasan di tengah gempuran informasi yang semakin ambivalen. Dan pertemuan macam ini menunjukkan betapa kebersamaan merupakan satu aset penting yang dapat mempertebal optimisme; mengakumulasi gagasan; dan memperlebar cakrawala pengetahuan  untuk terus bersikap kritis pada apa – apa yang pernah; sedang; dan akan terjadi.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *