Pengabdian

Jurusan Sosiologi memiliki banyak kegiatan pemetaan, riset, hingga pemberdayaan yang tersebar di bebagai daerah Indonesia. Berikut ini adalah salah satu kegiatan yang dilakukan untuk menjalin hubungan yang saling menguntungkan dengan masyarakat di daerah Jogja.

Berbekal pengalaman empiris dari proses penelitian, pengkajian maupun pendampingan yang pernah dan sedang dilakukan, salah satu fenomena yang menarik untuk dikaji dan dijadikan obyek kegiatan pengabdian kepada masyarakat adalah melihat bagaimana partisipasi wanita desa perkotaan dalam pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan keluarga. Dari pengamatan, pada umumnya kegiatan pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan keluarga dilakukan melalui wadah PKK yang selama ini telah ada dan diakui keberadaannya dalam masyarakat. Namun demikian, karena PKK lebih merupakan produk topdown yang kehadirannya seperti diwajibkan, maka yang kemudian berkembang adalah suatu kegiatan yang sigatnya rutin dan cenderung bersifat mobilitatif dari pada suatu bentuk partisipasi warga masyarakat, khususnya kaum perempuan. Persoalan lainnya berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia yang ada, kegiatan PKK sangat ditentukan oleh tingkat kualitas sumber daya manusia, terutama pengurus PKK yang ada. Pengaruh faktor lokasi jelas sangat menentukan, PKK yang ada di kawasan perkotaan pada umumnya memiliki kualitas sumber daya manusia yang relatif lebih baik dibadingkan dengan PKK yang ada di pelosok pedesaan.

          Dalam perkembangannya kemudian, paradigma pengembangan partisipasi wanita melalui wadah PKK mengalami pergeseran yang sangat signifikan, terutama dengan masuknya konsep pemberdayaan dalam kegiatan PKK. Konsep ini pula yang kemudian mendorong perubahan nama dari Pembinaan Kesejahteraan Keluarga menjadi Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga. PKK tetap menjadi lembaga yang memiliki eksistensi yang nyata sebagai wadah kegiatan dan upaya peningkatan kesejahteraan keluarga. Struktur organisasi PKK tetap tidak ada perubahan, dimulai dari Tim Pembina Tingkat Pusat kemudian Tim Penggerak PKK tingkat Propinsi, Kabupaten dan Kecamatan. Kemudian PKK tumbuh pada tataran lokal, mulai dari PKK Desa, PKK Pedukuhan/Dusun/Lingkungan dan PKK Kring/Sub Pedukuhan/RT maupun RW. Pada tingkat yang paling bawah terdapat Dasawisma atau Dasasomah yang menjadi basis paling bawah dari upaya pembinaan kesejahteraan keluarga melalui wadah PKK ini. Meskipun telah ada PKK, namun kemudian muncul konsep baru yang digulirkan oleh pemerintah dalam rangka pemberdayaan keluarga. Salah satu konsep yang digulirkan oleh Pemerintah untuk lebih memberdayakan keluarga tersebut adalah Pos Pemberdayaan Keluarga atau POSDAYA. Seperti halnya PKK, kebijakan topdown ini juga dimulai pada skala nasional hingga tingkatan paling bawah, yaitu Dusun atau Pedukuhan. Pos Pemberdayaan Keluarga memiliki tiga sasaran garap, yaitu (1)  peningkatan kesejahteraan keluarga melalui peningkatan kesehatan, (2) peningkatan kesejahteraan keluarga melalui peningkatan pendidikan, dan (3) peningkatan kesejahteraan keluarga melalui usaha produktif, terutama untuk menanggulangi pengangguran.

          Strategi yang dipergunakan dalam konsep Pos Pemberdayaan Keluarga atau Posdaya ini adalah melalui tiga kelompok sasaran, yaitu (1) Bina Keluarga Balita,  (2) Bina Keluarga Remaja dan (3) Bina Keluarga Lansia. Bina Keluarga Balita (BKB) merupakan  pembinaan dan pemberdayaan keluarga yang memiliki anak bawah lima tahun, dengan sasaran garap bidang kesehatan, antara lain melalui kerjasama dengan Posyandu Balita, Pemberian Makanan Tambahan (PMT), penimbangan, pemeriksaan dan pemberian imunisasi serta kegiatan penunjang lainnya. Sasaran garap bidang pendidikan antara lain melalui Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), kelompok belajar dan bermain  dan sejenisnya, yang biasanya diintegrasikan dengan kegiatan Posyandu Balita.    Bina Keluarga Remaja (BKR) merupakan pembinaan dan pemberdayaan keluarga yang memiliki anak remaja (usia 12 sampai dengan 21 tahun), terutama bidang sasaran garapannya pada pembinaan mental spiritual serta kepemudaan. Sementara Bina Keluarga Lansia (BKL) merupakan keluarga yang memiliki anggota keluarga lanjut usia (usia 55 tahun ke atas), baik penyandang masalah kesehatan maupun bukan penyandang masalah kesehatan, dengan sasaran garap bidang kesehatan, pada umumnya bekerjasama dengan Posyandu Lansia, yang memiliki kegiatan pemeriksaan kesehatan, pemberian makanan tambahan, senam sehat lansia  dan sejenisnya.

          Seperti yang selama ini berlangsung, masuknya program pembangunan yang sifatnya topdown dan instruksional, line of action yang dipergunakan adalah  struktur birokrasi pemerintahan, mulai dari pusat sampai ke tingkat dusun atau pedukuhan. Posdaya juga melalui saluran yang serupa, sehingga dominasi perangkat pemerintah, mulai dari atas sampai tataran terbawah sangat dirasakan. Meskipun keterlibatan tokoh masyarakat cukup  tinggi, tetapi seperti pada program-program topdown lainnya, penerimaan masyarakat lebih bersifat formalistik dari pada substantif. Masyarakat cenderung menerima apa saja program pemerintah yang masuk, tanpa ada pemahaman dan pengertian yang memadai, yang dapat mendorong timbulnya partisipasi maupun rasa memiliki dari masyarakat atas program tersebut, sungguhpun program tersebut secara konseptual baik dan telah disosialisasikan secara memadai.         Fenomena yang sama terjadi pada program Posdaya yang ada di Pedukuhan Kurahan, Desa Bantul, DIY. Meskipun telah digulirkan, telah disosialisasikan dan telah dibentuk pengurusnya (yang melibatkan semua tokoh masyarakat dari berbagai elemen) namun selama berbulan bulan Posdaya yang ada di Pedukuhan Kurahan Desa Bantul ini tetap tidak ada kegiatan yang dilakukan.


Pemetaan Masalah

          Kegiatan pemetaan masalah ini dilakukan oleh para Mahasiswa Program Pascasarjana S2 Sosiologi Minat Khusus Studi Pembangunan Fisipol UGM yang menjadi peserta  Mata Kuliah Kuliah Lapangan. Dalam upayanya untuk mendapatkan data dan informasi dari masyarakat  Pedukuhan Kurahan, Desa Bantul, para mahasiswa melakukan wawancara mendalam dengan berbagai pihak yang berkaitan dengan tema utama. Selain dengan Kepala Dusun, Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD) Pedukuhan Kurahan, Ketua PKK Pedukuhan Kurahan, wawancara mendalam juga dilakukan dengan sejumlah  pengurus PKK Pedukuhan Kurahan, pengurus Posyandu Balita dan PAUD, Pusyandu Lansia dan Ketua Pemuda.

          Materi wawancara  dengan Kepala Dukuh Pedukuhan Kurahan dan Ketua Pokja LPMD Pedukuhan Kurahan berupaya mendapatkan gambaran mengenai kehidupan masyarakat pedukuhan Kurahan secara umum, kegiatan pembangunan yang dilaksanakan, faktor pendukung dan faktor penghambat serta masalah yang dihadapi masyarakat Pedukuhan Kurahan, Desa Bantul. Sementara itu, wawancara dengan Ketua dan pengurus PKK  berkisar pada keberadaan dan  kegiatan PKK Pedukuhan Kurahan, serta masalah yang ada dalam pelaksanaan kegiatan yang selama ini dilaksanakan. Dalam kaitannya dengan Pengurus Posyandu baik Balita dan PAUD, maupun Lansia, materi wawancara berkisar pada masalah kegiatan dan permasalahan yang dihadapi oleh berbagai program PKK tersebut. Wawancara dengan Ketua Pemuda mengarah pada kegiatan kepemudaan dan permasalahan yang dihadapi pemuda di Pedukuhan Kurahan, Bantul.

          Berbekal hasil wawancara mendalam dengan berbagai pihak yang relevan dengan tema utama, mahasiswa Program Pascasarjana Sosiologi mengundang sejumlah tokoh kunci yang relevan dengan tema utama, untuk melakukan Focus Group Discussion dengan tujuan memetakan masakah yang dihadapi.  Pada tanggal 18 April 2009, bertempat di rumah Bapak Kepala Dukuh Pedukuhan Kurahan, Focus Group Discussion dilakukan dengan dihadiri oleh 12 orang peserta, terdiri dari Kepala Dukuh, Ketua PKK, Pengurus Posyandu, Pengurus Posdaya dan beberapa utusan dari Dasawisma. 

Berdasarkan hasil FGD tersebut kemudian dikaji ulang rencana aksi yang diperkirakan dapat dikembangkan untuk memecahkan masalah dan merespon kondisi yang ada. Pengkajian ulang ini dilakukan melalui serangkaian diskusi dan menjadi pokok bahasan dalam Mata Kuliah Kuliah Lapangan.


Kaji Tindak dan Rencana Aksi

          Berdasarkan hasil pemetaan permasalahan yang berkaitan dengan tema utama, hasil diskusi para Mahaasiswa peserta Mata Kuliah Kuliah Lapangan dapat diidentifikasi sejumlah permasalahan dan kondisi tertentu yang dijadikan dasar menyusun rencana aksi. Dalam kaitannya dengan tema utama, yaitu bagaimana mendorong eksistensi dan kegiatan Posdaya agar dapat diterima dan memberi manfaat optimal bagi masyarakat, kondisi yang ada dianalisis dan dipertimbangkan serta permasalahan yang ada dijadikan dasar untuk dicari solusinya. Dengan mengacu pada hasil pemetaan masalah di atas hasil kaji tindak  yangd ilakukan oleh mahasiswa Program Pascasarjana S2 Sosiologi.


Pelaksanaan Kegiatan

Berdasarkan hasil analisis dan rencana aksi sebagaimana diuraikan di atas, beberapa kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka pengabdian kepada masyarakat meliputi:

  1. Koordinasi dengan Pengurus PKK Pedukuhan Kurahan mengenai rencana kegiatan dalam rangka pengabdian kepada masyarakat dari Jurusan Sosiologi Fisipol UGM melalui pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan keluarga dengan wadah Posdaya Pedukuhan Kurahan
  2. Mendorong kegiatan Posyandu Balita sebagai bagian dari program Bina Keluarga Balita Posdaya.
  3. Mendorong kegiatan SPS dan Kelompok Bermain sebagai bagian dari program Bina Keluarga Balita Posdaya.
  4. Mendorong kegiatan Posyandu Lansia sebagai bagian dari program Bina Keluarga Lansia Posdaya.
  5. Mendorong partisipasi warga untuk mengikuti senam lansia yang dikembangkan menjadi Senam Sehat Keluarga, sebagai bagian dari program Bina Keluarga Lansia Posdaya.
  6. Pemberian makanan tambahan bagi peserta senam sehat keluarga selama beberapa kali kegiatan senam
  7. Pemberian stimulan kepada kader Bina Keluarga Lansia berupa pemberian Kaos seragam untuk senam.
  8. Pemberian kaos seragam senam untuk 30 (tiga puluh) lansia yang aktif mengikuti senam
  9. Menyediakan hadiah hadir selama beberapa kali kegiatan senam sehat keluarga
  10. Merangsang warga yang mengikuti Senam Sehat Keluarga untuk bersedia membawa hadiah hadir yang murah, meriah dan menghibur.
  11. Mengundang Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bantul untuk mengukuhkan penguruis Posdaya Manunggal Pedukuhan Kurahan
  12. Menyelenggarakan Sarasehan tentang Narkoba dan Bahaya Narkoba .
  13. Menyelenggarakan Sarasehan Refleksi Diri dengan para pemuda untuk mendapatkan gambaran mengenai permasalahan yang dihadapi dan solusinya.
  14. Menyelengarakan kegiatan senam Sehat Keluarga di Pantai Depok sebagai penutup kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Jurusan Sosiologi Fisipol UGM di Pedukuhan Kurahan Bantul.

Penutup

                   Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat Jurusan Sosiologi Fisipol Universitas Gadjah Mada dengan memadukan antara pembelajaran mahasiswa, penelitian mahasiswa dengan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan ini masih banyak kekurangan dan kelemahan. Ini merupakan kegiatan rintisan yang diharapkan dimasa datang  dapat lebih berkembang dengan sempurna. Keberlanjutan kegiatan pasca program pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan menjadi tolok ukur apakah kegiatabn itu berbasil atau tidak. Memang bukan satu satunya ukuran, tetapo bagaimana masyarakat menerima dan menjaga keberlangsungan suatu program karena manfaat yang di[perolehnya merupakan bukti dari keberlanjutan dan kemanfaatan program bagi penerima. Diperlukan perencanaan dan kajian yang lebih baik untuk menghasilkan kegiatan yang sinergis antar unsur Tri Dharma Perguruan Tinggi secara optimal.