Kuliah Tamu “Membincang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) Saat Ini” bersama Dr. Nihayatul Wafiroh
6 March 2020

Departemen Sosiologi UGM peringkat 175 Dunia Versi QS: Sebuah Catatan

Kali ini ingin berbagi kabar baik: UGM meraih predikat terbaik di Indonesia di 6 bidang studi, termasuk Sosiologi tempatku mengabdi. Bahkan di tempatkan di rangking 200 terbaik dunia. Wow. Alhamdulillah.

Pembuat pemeringkatan adalah QS, sebuah lembaga pemeringkat kampus top dunia. Sebelumnya dia berkolaborasi dg THE (Times Higher Education), tapi belakangan mereka pecah kongsi dan membuat pemeringkatan secara terpisah.

Meski selama ini kurang hirau terhadap soal pemeringkatan kampus, toh kami merasa bangga dan berbahagia. Bahwa kampus dan prodi kami mendapat apresiasi dari lembaga pemeringkatan terkemuka dunia. Dalam diskursus internal di UGM mengemuka pandangan kuat bahwa: lebih penting dari soal ranking adalah soal kemanfaatan kampus bagi masyarakat sekitar, bangsa dan kemanusiaan.

Tercermin dalam semacam kredo UGM: Berakar Kuat, Menjulang Tinggi atawa Locally Rooted, Globally Respected.

Terus terang kami tidak tahu apa yang membuat Sosiologi UGM menempati posisi tinggi seperti itu. Ketika iseng-iseng mengintip laman QS, salah satu penilaian utama ternyata ihwal 'academic reputation'. Dengan kata lain, para mitra akademik internasional menilai baik dan terhormat posisi, karya dan kinerja kami.

Kebetulan kami memang sempat bermitra dan bekerjasama dg berbagai kampus terkemuka dunia, baik di ranah pendidikan maupun penelitian. Misalnya, University of Melbourne, ANU, Monash University, Flinders University, LSE, Universiteit van Amsterdam, KITLV, University of York, University of Newcastle.

Saya berkhusnudzhan bahwa mereka memberi apresiasi dan 'nilai bagus' untuk kerja dan kinerja kami.

Gara-gara soal ranking ini aku jadi merasa bersalah. Kenapa? Hampir setiap tahun aku selalu menerima email dari QS dan THE untuk melakukan nominasi terbaik terhadap universitas mitra internasional di bidang studiku. Seingatku aku tidak pernah mengisi dan membalas email itu. Tampaknya kini saatnya untuk membalas kebaikan para mitra dengan memberikan "nilai bagus" bagi karya dan kinerja mereka.

Bismillah. Semoga barokah.


Penulis: M. Najib Azca