Kongres Kebudayaan Desa

Membaca Desa, Mengeja Ulang I-N-D-O-N-E-S-I-A: Arah Tatanan Indonesia Baru dari Desa

Pandemi Covid-19 telah menjungkirbalikkan tatanan masyarakat Indonesia. Dunia seperti kembali ke nol, dan butuh ditata ulang untuk menjalani kehidupan di era kenormalan baru. Desa juga demikian, harus bersiap menata ulang masa depannya. Desa merupakan sumbu peradaban dalam tatanan masyarakat Indonesia. Selama pandemi, desa terdampak secara sosial, ekonomi, budaya, agama, hingga hukum. Namun di saat bersamaan, desa juga mengajarkan tentang puncak-puncak relasi di masyarakat. Bahwa puncak relasi sosial adalah kekeluargaan, puncak relasi ekonomi adalah kerjasama, dan puncak relasi politik adalah musyawarah. Ketiga puncak relasi tersebut berujung pada semangat gotong royong dan kolaborasi multi pihak.

Di tengah masa darurat pandemi Covid-19, kemunculan gerakan Kongres Kebudayaan Desa (KKD) menginspirasi sekaligus menggerakkan civitas Departeman Sosiologi Fisipol UGM untuk turut terlibat dalam pergulatan gagasan, praktik, dan pengharapan bagi terciptanya tatanan peradaban baru paska pandemi yang lebih setara, adil, ekologis, dan lestari. Sehingga hidup bersama lebih bermakna dan bermartabat dalam bingkai kebhinneka-tunggal-ikaan.

Diseminasi informasi terkait Kongres Kebudayaan Desa yang tersajikan dalam website Departemen Sosiologi Fisipol UGM ini merupakan proses penggalangan keterlibatan publik secara lebih luas, baik dari kalangan akademisi, aktivis, dan masyarakat luas untuk turut terlibat dalam serangkaian acara Webinar Kongres Kebudayaan Desa sejak 1 juli hingga 10 Juli 2020 yang melibatkan 90 narasumber yang kompeten di bidangnya masing-masing. Kongres Kebudayaan Desa membuka partisipasi semua pihak untuk ikut andil merumuskan berbagai aspek terkait masa depan desa-desa di Indonesia.

Jadwal Webinar