Arsip:

Kegiatan

Public Lecture The Economics of Pentecostal/Charismatic Christiniaty

 

Yogyakarta – Rabu 22 April 2026, Departemen Sosiologi menyelenggarakan public lecture bersama Professor Martin Lindhardt dari University of Southern Denmark. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program Visiting Scholar Professor Martin di Departemen Sosiologi. Pada kesempatan kali ini, Professor Martin memaparkan materi dengan tajuk “the economic of Pentecostal/Charismatic Christianity.”

Professor Martin memulai diskusi dengan memberikan pengantar terkait pentecostalism sebagai fenomena kekristenan global serta signifikansinya pada isu-isu sosial-ekonomi dan agama. Secara statistik, jumlah penganut pentecostals berjumlah sekitar 584 juta orang dari total 2 miliar orang beragama kristen, menyumbang 30% dari total umat beragama kristen. Adapun persebaran penganut pentecostals terpusat pada populasi di Afrika dan Amerika latin. Melalui data tersebut Professor Martin menggarisbawahi relasi Pentecostalism dan globalisasi, dimana terdapat tren Pentecostalism menjadi agama global. Selain itu, Ia juga memaparkan analisis terkait struktur yang mendorong Pentecostalism hingga dapat bergerak menjadi sedemikian rupa. 

Merujuk pada Thomas Csordas, agama dapat berkembang jauh disebabkan dari praktik ibadah yang ringkas, pesan-pesan agama yang fleksibel, dan seringkali berfokus pada masyarakat kelas bawah terutama pada perempuan. Professor Martin membedah struktur ekonomi yang melatarbelakangi hal tersebut melalui etika protestan, semangat kapitalisme pada umat kristen, dan mentalitas injil kemakmuran yang meyakini Tuhan menjanjikan kekayaan materi, kesehatan fisik dan kebahagiaan bagi orang beriman. Partisipasi jemaat pada Gereja Pentecostal mendorong timbulnya prioritas ekonomi baru, disiplin dan inisiatif. Terdapat juga kecenderungan terutama bagi laki-laki menjadi lebih domestik dan mengambil peran keluarga dengan lebih kuat. 

Lebih jauh untuk menghadapi kondisi tersebut, dimana terdapat tuntutan umum untuk menjadi kaya dan dermawan. Keterlibatan dalam Pentecostalism kemudian melahirkan jemaat yang memiliki semangat berwirausaha dan optimisme absolut terhadap kondisi ekonomi. Suatu kondisi yang sangat tepat untuk menghadapi kondisi ketidakpastian dan pasar kerja yang fleksibel. Aspirasi kuat untuk menjadi pribadi yang lebih baik secara ekonomi kemudian beresonansi sangat kuat dengan keinginan neoliberalisme. Adapun tekanan ini terpusat pada level individu, mengikuti dengan posisi gereja yang anti politik dan melihatnya sebagai permasalahan duniawi semata. Di sisi lain, terdapat usaha untuk menspritualisasikan masalah sosial dimana terdapat cara pandang theistic terhadap perubahan sosial. Hal ini nantinya akan mendorong pada perkembangan prosperity gospel yang berfokus pada kesejahteraan sebagai medium penyebaran agama. Uang maupun manfaat materil lain kemudian menjadi sesuatu yang sangat personal antara tuhan dan individu, termasuk didalamnya praktik memperkaya diri sendiri. Kesejahteraan material seperti memiliki kekayaan pada taraf tertentu serta nonmaterial yang ditandai dengan kesehatan dan keharmonisan rumah tangga menjadi penanda dari perkembangan spiritual masing-masing jemaat.

Public lecture ini ditutup dengan kesimpulan bahwa perkembangan prosperity theology yang dibawa oleh Pentecostalism mendukung kondisi-kondisi Neoliberal kapitalisme. Lebih lanjut dorongan positif terhadap kepemilikan material bergeser dari yang sebelumnya ditujukan untuk pengembangan aktivitas kekristenan menjadi penguntungan pada beberapa individu semata. Diskusi lebih lanjut merefleksikan bagaimana kondisi-kondisi tersebut berkaitan dengan praktik-praktik yang ada di Indonesia.

 

 

Workshop on Data Analysis-Thematic Analysis and its use in the Study of Pentecostal

 

Yogyakarta – Kamis, 23 April 2026 Departemen Sosiologi menyelenggarakan Workshop data analisis bersama Professor Martin Lindhardt dari University of Southern Denmark. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program Visiting Scholar Professor Martin di Departemen Sosiologi. Pada kesempatan kali ini, Professor Martin membahas tentang bagaimana melakukan analisis tematik dan penggunaanya dalam risetnya yang berjudul “Pentecostal Representations of God.”

Sebelum memulai presentasi, Professor Martin terlebih dahulu menggarisbawahi    metode sebagai bagian yang sangat penting dalam melakukan analisis penelitian. Melalui penelitiannya tentang jemaat Pentekostal, Professor Martin menelusuri pola-pola makna yang muncul dari wawancara bersama informan yang ia temui. 

Sebagai introduksi, Professor Martin menjelaskan analisis tematik sebagai pengembangan dari analisis konten terutama analisis konten induktif. Analisis konten merupakan bentuk analisis yang digunakan untuk mengkaji materi tulisan dan visual. Analisis tematik menghitung frekuensi kemunculan kata dari satu tema yang muncul pada satu kelompok secara kolektif, dimana pada penelitiannya adalah tema yang berkaitan dengan representasi Tuhan. Proses analisis tematik mencakup beberapa tahap yaitu pembacaan data secara menyeluruh, pengembangan kode awal, pengelompokan kode menjadi tema yang lebih abstrak, hingga peninjauan dan penyempurnaan tema. Dalam studi ini, sejumlah kode dikelompokkan ke dalam tema besar seperti Tuhan sebagai teman dan Tuhan sebagai kekasih. Berdasarkan riset ini, gambaran mengenai sistem kepercayaan membentuk pengalaman sehari-hari individu. Secara metodologis presentasi riset ini menegaskan relevansi analisis tematik sebagai alat riset yang kuat untuk menangkap nuansa representasi sosial. 

Kegiatan ini ditutup dengan diskusi bersama antara peserta yang hadir. Salah satu pembahasan yang muncul adalah bagaimana metode berperan sama pentingnya dengan teori. Artinya, mengetahui cara pendekatan yang benar memungkinkan peneliti mendapatkan data yang lebih mendalam.

Penulis: Ilham Ramadhan

Editor: Rizky Murdiana

Sharing Session “Digital sociology: Recent developments in the sociological study of relations between digital technologies and social life”

Yogyakarta – Senin, 20 April 2026, Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada menerima kunjungan Professor Martin Lindhardt dari Universitas Southern Denmark dalam rangka kegiatan Visiting Scholar. Pada kesempatan kali ini, Professor Martin berbagi penelitian terbarunya mengenai sosiologi digital dan relasinya dengan isu kesehatan.

Professor Martin mengawali diskusi dengan memberi sorotan bahwa bidang sosiologi digital tengah mengalami perkembangan pesat. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan teknologi digital ke dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, sektor kesehatan juga melakukan adaptasi beberapa instrumen digital seperti AI, smartwatch dan aplikasi dalam pelayanan medis. Mediasi oleh teknologi yang semakin intens ini, lambat laun menggeser otoritas kesehatan dari profesional/tenaga kesehatan menuju aplikasi digital. Hal ini ditandai dengan adanya perkembangan digitalisasi kesehatan dimana pasien terlibat aktif dalam produksi data digital kesehatan.

Praktik kuantifikasi diri, dimana pasien secara sadar melakukan pengawasan mandiri melalui berbagai perangkat menjadi umum dijumpai. Pengalaman tubuh kemudian termediasi melalui perangkat digital untuk melahirkan berbagai data yang menunjukkan indikator kesehatan individu. Lebih jauh, hal ini kemudian berdampak pada hilangnya kemampuan mengenali sinyal tubuh secara langsung. Kondisi ini merupakan bentuk ketergantungan pada perangkat digital.

Pada penelitiannya, Professor Martin melihat praktik penggunaan perangkat digital kepada perempuan hamil. Temuannya adalah, penggunaan aplikasi yang intens menciptakan kewaspadaan berlebih terhadap pengalaman mengandung. Hal ini meningkatkan keinginan untuk selalu mendapatkan informasi yang “benar” terkait perubahan kondisi tubuh. Konsekuensinya adalah perempuan akan selalu berada dalam kondisi khawatir berlebih dikarenakan aplikasi memberikan indikator-indikator yang harus dipenuhi. Pengalaman ini berkontribusi pada fenomena di mana informasi berubah menjadi beban; informasi yang disajikan aplikasi terasa mendikte dan memengaruhi cara pengguna memaknainya.

Pada analisis akhir, Professor Martin menjelaskan bagaimana aplikasi dapat menjadi sangat dominan. Proses intimatization yang terjadi antara pengguna dan aplikasi mendorong pada terbentuknya agensi pada suatu teknologi. Hal ini menggambarkan situasi di mana aplikasi memiliki kuasa seiring dengan peningkatan intensitas penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Aplikasi dan informasi adalah pedang bermata dua, di mana ia memberikan fondasi kepada individu untuk mengatur kesehatan mereka sendiri, namun di sisi lain mendominasi cara pengguna untuk memahami pengalaman kesehatan mereka sendiri.

Sharing session kemudian diakhiri dengan diskusi dan tanya jawab di forum. Diskusi ini banyak membahas terkait relevansi penelitian tersebut pada mata kuliah Sosiologi Kesehatan. Topik terkait pengaruh teknologi dengan sektor kesehatan menjadi penting untuk muncul di kurikulum kuliah. Metode penelitian dan data analisis juga menjadi poin menarik, terutama dalam membaca interpretasi pengalaman penggunaan teknologi dan kesehatan di kehidupan sehari-hari.

Penulis: Ilham Ramadhan

Editor: Rizky Murdiana

Meneladani Sosok Inspiratif Haedar Nashir dalam Memperkuat Moderasi Beragama

Departemen Sosiologi berkolaborasi bersama Social Research Center (SOREC) UGM dan IBTimes.ID dalam menyelenggarakan diskusi dan bedah buku “Jalan Baru Moderasi Beragama: Mensyukuri 66 Tahun Haedar Nashir” pada Selasa (23/4). Acara ini dilaksanakan di Ruang Auditorium Lantai 4 FISIPOL UGM dan dihadiri langsung oleh Prof. Dr. KH. Haedar Nashir, Prof. Dr. Siti Ruhaini Dzuhayatin, M.A., Prof. Dr. Sugeng Bayu Wahyono, Dr. Muhammad Najib Azca, dan Pdt. Izak Lattu, Ph.D.

Buku yang berisi tulisan para tokoh dari berbagai elemen ini didedikasikan khusus kepada Prof. Haedar Nashir sebagai bentuk syukur atas Milad ke-66 beliau. Sosok Prof. Haedar Nashir dikenal sebagai ideolog dan “kamus hidup” Muhammadiyah sekaligus agamawan dengan karakter moderat dalam pemikiran juga tindakan.

Pada sesi diskusi dan bedah buku tersebut, Prof. Haedar Nashir menyampaikan gagasannya perihal moderasi beragama. “Sebenarnya mau moderat, mau tengahan, atau wasathiyah, itu tergantung pada esensi, pemaknaan dan konstruksinya. Semua konstruksi sah, asal terbuka untuk didialogkan. Menjadi masalah ketika monolitik dan lalu menjudge pemikiran yang berbeda menjadi salah, sesat, dan sebagainya,” ungkap Prof. Haedar Nashir.

Hal ini turut disepakati oleh Prof. Ruhaini, “Pemikiran Muhammadiyah menjadi tidak tunggal, ada spektrum, keragaman ada heterogenitas. Baik itu dalam pemikiran, tindakan, ataupun sikap. Prof. Haedar berada di tengah dan memiliki kekuatan dalam menghela (kelompok) sisi kiri & kanan untuk ke tengah.”

Senada dengan Prof. Ruhaini, Pdt. Izak Lattu juga menyampaikan betapa kagumnya beliau akan sosok Haedar Nashir. Menurutnya, sosok Haedar Nashir tidak hanya merangkul berbagai kelompok dalam Muhammadiyah atau lingkup agama Islam saja, melainkan turut berkolaborasi dengan elemen dari agama-agama lain. Melalui buku ini, pembaca dapat memahami bagaimana perjalanan Prof. Haedar dalam merangkul berbagai aliran pemikiran yang kemudian beliau dinamiskan kearah lebih moderat.

Disamping membahas substansi secara garis besar, para pembicara turut mendiskusikan buku tersebut dengan sudut pandang realitas. Sebagaimana disampaikan Prof. Sugeng terkait pandangannya mengenai implementasi moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari yang tentu saja masih terdapat banyak perbedaan. “Jadi yang namanya moderasi beragama, inklusif, itu perlu dibuktikan sampe ke bawah.” ujar Prof. Sugeng.

Sejalan dengan Prof. Sugeng, Dr. Najib Azca turut mengupas buku tersebut dengan menjadikan Sosiologi sebagai alat baca. “Beliau melihat bahwa problem moderasi bukan hanya problem agama kira-kira gitu. Problem moderasi adalah problem kebangsaan, dalam arti kita bisa menciptakan ekstremitas karena diskriminasi misalnya. Salah-salah bisa membangun radikalisme. Jadi moderasi adalah bagaimana kita merangkul keseluruhannya,” tutur Dr. Najib Azca.

Penulis: Farizqa A P

Editor: Andi Firmansah

Bedah Buku “Proliferasi Pemikiran Sosial Kritis: Memaknai Emansipasi, Menolak Dehumanisasi”

Social Research Center (SOREC) UGM bersama Departemen Sosiologi UGM telah melangsungkan bedah buku sekaligus perilisan buku bertajuk “Proliferasi Pemikiran Sosial Kritis”. Dalam diskusi bedah buku yang dilaksanakan pada Kamis (28/3), turut hadir keempat penulis buku sekaligus pembicara, yakni Prof. Dr. Heru Nugroho, Dr. A. B. Widyanta, Gregorius Ragil Wibawanto, MAPS, Rizqyansyah Fitramadhana, S. Sos, serta Dr. Dewi Candraningrum sebagai pembahas.

Buku “Proliferasi Pemikiran Sosial Kritis” terbagi ke dalam 3 bagian meliputi Teori Sosial Kontemporer, Paradoks Fundamentalisme Pasar, dan Membaca Kerentanan. Secara mendalam, buku ini membahas isu-isu digital dan transisi rezim neoliberal di Indonesia menggunakan lensa sosiologi kritis. Melalui buku ini, para penulis menyampaikan gambaran mengenai kerentanan pekerja dan pengguna platform serta privatisasi layanan publik dan perampasan hak dasar warga negara.

Merespon dari banyaknya pengguna smartphone yang belum tentu lebih smart dari gawai yang digunakan, Gregorius Ragil Wibawanto, MAPS mengatakan “Kita harus melihat apa yang ada di digital sekaligus menyaksikan seperti apa realitas yang terjadi di dunia nyata, sebab kedua dunia tersebut tidak dapat dipisahkan. Menolak dehumanisasi digital, bukan berarti menolak kehadiran digital itu sendiri”.

Pada sesi berikutnya, Dr. A. B. Widyanta atau yang akrab disapa Bung AB turut menekankan “Inilah pentingnya bersikap resisten, dimana ada kekuasaan, maka juga harus ada perlawanan. Kehadiran teknologi tidak hadir serta merta bersama solusi dari setiap permasalahan yang terjadi”. Dalam buku tersebut turut disinggung perihal privatisasi layanan publik yang spesifik menyoal institusi pendidikan tinggi di Indonesia yang diibaratkan sebagai “macan ompong”.

Buku “Proliferasi Pemikiran Sosial Kritis” dapat diakses dengan memesan secara online melalui WhatsApp SOREC UGM (0823 2915 1202).

Penulis: Farizqa A P

Editor: Andi Firmansah

Info Session Sosiologi Double Degree dan Master of Social Policy The University of Melbourne dengan Beasiswa LPDP

Departemen Sosiologi UGM telah mengadakan Information Session mengenai pendaftaran beasiswa LPDP untuk Gelar Ganda Sosiologi Universitas Gadjah Mada, Indonesia dan Master of Policy di The University of Melbourne, Australia. Program ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menempuh studi langsung di Universitas Gadjah Mada, Indonesia (1 tahun) dan di The University of Melbourne, Australia (1 tahun). Sesuai dengan namanya, pada akhir program nanti mahasiswa akan mendapatkan 2 gelar sekaligus yakni MA Sosiologi dan Master of Social Policy.

Acara dilaksanakan secara daring pada Selasa, 6 Juni 2023 dan dibuka dengan pemaparan seputar Program Studi Sosiologi Double Degree oleh Dr. M. Falikul Isbah, G.D.Soc., M.A. selaku koordinator program tersebut. Beliau turut menyampaikan sejarah singkat dari program double degree yang telah berjalan sejak tahun 2017. Sejak awal, program ini telah didanai oleh sejumlah program beasiswa seperti BPJS-K, BAPPENAS, Split-Site dari AAS. Pun pada tahun ini, program gelar ganda Sosiologi UGM dengan Master of Social Policy UoM telah terdaftar sebagai program studi tujuan yang didanai beasiswa LPDP oleh Kementerian Keuangan RI.

Sesi selanjutnya bergeser ke pemaparan cerita dari Meta Indriyani Kurniasari S.T. sebagai mahasiswa program double degree ini sekaligus membawa 1 anak saat menempuh studi di Australia. Meta menceritakan pengalamannya selama menjalani perkuliahan di Melbourne tanpa meninggalkan perannya sebagai ibu. Baginya sebagai lulusan sarjana teknik dan bekerja di Kementerian Pariwisata & Ekonomi Kreatif, tidak ada kesulitan berlebih saat masa transisi ke double degree Sosiologi. “Menurut saya, program ini bener-bener well established karena sebelum masa studi di Australia diadakan pelatihan bahasa seperti English weekly class, IELTS preparations,” ujar Meta.

Beralih pada sesi sharing oleh Yohanes Alfonsus Liquori Vishnu Satyagraha S.Sn., M.A.,MSocPolicy sebagai alumni double degree Sosiologi tahun 2020. Vishnu menceritakan banyak pengalaman menarik selama dirinya berkuliah saat di Indonesia juga di Australia. Banyak pengetahuan selama masa studi yang berhasil mempengaruhi cara berpikirnya di masa sekarang. Terlebih dengan profesinya sebagai bagian dari Pemerintahan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, ilmu yang didapat sangat bermanfaat dalam membantunya menyusun kebijakan.

Agenda information session kali ini ditutup dengan sesi tanya jawab. Para peserta antusias bertanya seputar skema pendaftaran UM UGM yang berbarengan dengan linimasa pendaftaran LPDP, persyaratan, dan lain sebagainya. Bagi teman-teman yang berhalangan hadir pada sesi kemarin silakan untuk mengakses video rekaman melalui kanal YouTube Departemen Sosiologi UGM.

Penulis: Farizqa A P