Mengupas Feminisme Muslim: Kesetaraan Gender Dimulai dari Keluarga

Yogyakarta – Rabu, 30 September 2026, Departemen Sosiologi FISIPOL UGM menyelenggarakan kuliah tamu dalam mata kuliah Gender dan Seksualitas. Kegiatan yang bertempat di ruang BA 203 FISIPOL UGM ini menghadirkan Prof. Alimatul Qibtiyah, Ph.D. dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai dosen tamu dengan topik bertajuk “Feminisme Muslim” yang secara khusus membahas arah gerakan feminis muslim di Indonesia. 

Dalam perkuliahan tersebut, Prof. Alimatul menjelaskan bahwa feminisme bergerak dengan keyakinan dimana perempuan dan laki-laki sama-sama manusia sempurna. Beliau menekankan pentingnya relevansi gerakan feminis muslim di Indonesia untuk merespons kompleksitas persoalan perempuan yang seringkali terdiskriminasi oleh budaya patriarki, serta untuk menjembatani ketegangan antara Islam dan feminisme. Lebih lanjut, mahasiswa diajak melihat rekam jejak historis bahwa Nabi Muhammad SAW dapat dipandang sebagai seorang feminis karena beliau menyadari persoalan perempuan di era Jahiliyah, merespons masalah tersebut, dan mengangkat derajat perempuan agar memiliki kemanusiaan yang penuh seperti halnya laki-laki.

Diskusi kemudian berlanjut pada konsep keluarga feminis yang menolak pembatasan perempuan hanya di ranah domestik dan mendorong kebebasan memilih peran tanpa paksaan. Keluarga ini dibangun di atas prinsip kesalingan (mubadalah), mengedepankan negosiasi, serta membagi tanggung jawab pengasuhan maupun pekerjaan rumah tangga kepada kedua orang tua. Untuk mewujudkan prinsip-prinsip tersebut dalam merespons berbagai isu gender seperti persoalan kodrat hingga pembagian warisan, Prof. Alimatul menekankan pentingnya mengadopsi pola pemikiran Islam yang moderat (inklusif dan adaptif) maupun progresif (mengutamakan rasionalitas), alih-alih menggunakan pendekatan konservatif yang cenderung kaku dan harfiah.

Pada bagian akhir perkuliahan, Prof. Alimatul menyimpulkan bahwa arah utama gerakan feminis muslim di Indonesia saat ini berpusat pada penguatan keluarga feminis. Melalui kuliah tamu ini, mahasiswa diharapkan menyadari bahwa keberhasilan menyelesaikan masalah ketidakadilan gender di dalam keluarga akan menjadi landasan kuat bagi perempuan dan laki-laki untuk berkiprah secara maksimal di ruang publik guna mewujudkan peradaban Indonesia yang lebih baik.

Penulis: Iqbal Dwi Pamungkas