
Perjalanan Tiara Limoharjo dalam Kelindan Komunikasi dan Advokasi di KotaKita
“Ternyata di tengah kondisi sosial politik yang tidak mudah, masih ada banyak komunitas dan lembaga yang peduli dengan isu kota. Meski masih ada hambatan, tapi ada juga ketangguhan, perjuangan, dan mereka saling berkoalisi.”
Tiara Limoharjo, akrab dipanggil Tiara, merupakan alumni Departemen Sosiologi UGM tahun 2021. Saat ini, ia berkarir sebagai Communication and Advocacy Associate di KotaKita, sebuah Non-Governmental Organization (NGO) yang berbasis di Surakarta dan bergerak di bidang perencanaan kota serta partisipasi masyarakat.
Dalam pekerjaannya, peran Tiara berkelindan antara kerja komunikasi dan advokasi. Di ranah komunikasi, ia menyambung suara lewat diseminasi, publikasi, produksi konten media dan berbagai produk pengetahuan lain. Sementara di ranah advokasi, ia terlibat langsung dalam kerja-kerja pendampingan komunitas lokal.
Perjalanan karir Tiara di KotaKita bermula dari sebuah kesempatan magang (intern). Langkahnya berlanjut ketika sebuah posisi purna waktu terbuka dan ia memilih untuk melamar. Menjalani hari-harinya di antara komunikasi dan advokasi, ia menemukan bahwa pekerjaannya menuntut lebih dari sekedar kemampuan menyampaikan gagasan. Ada banyak hal yang harus dirajut, cerita, manusia, ide semua harus berjalan sedemikian rupa, “bekerja di komunikasi dan advokasi ternyata harus punya skill macam event organizer juga.”
Semasa berkuliah, Tiara mengisi hari-harinya dengan berbagai kegiatan. Ia sempat bergabung dengan UKM Unit Penalaran Ilmiah Interdisipliner (UPII) di divisi media dan jurnalistik, serta aktif di Organisasi Mahasiswa Daerah (Ormada) HIMAGAMA Sulsel. Berbagai ruang tersebut memberinya kesempatan untuk belajar, berjejaring, sekaligus mengasah minatnya di bidang komunikasi.
Pengalaman lain datang dari program magang MBKM di bidang Community Development Kompas Gramedia pada pertengahan masa kuliah. Di sana, Tiara mendapat bekal yang kemudian beririsan dengan pekerjaannya kini, terutama dalam hal pelibatan anak muda. Pengalaman-pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan yang perlahan membentuk arah karirnya.
Lebih dari pengalaman praktis, Tiara merasa cara belajar Sosiologi turut membantunya memahami dunia kerja. Kebiasaan melihat persoalan secara makro dan multidisipliner memberinya sudut pandang yang berbeda ketika bekerja di isu perkotaan, yang kerap didominasi oleh pendekatan perencanaan wilayah dan kota (PWK), geografi, atau teknik. Sosiologi membantunya melihat kota dari sisi sosial dan manusia yang menghidupinya. Mata kuliah seperti sosiologi perkotaan dan gender dan seksualitas, ditambah kebiasaan menulis esai, kini menjadi bekal dalam menyusun konten, press release, hingga artikel kelembagaan.
Selama bekerja, Tiara berkesempatan terlibat dalam berbagai proyek bersama komunitas di Semarang hingga Makassar. Salah satu ruang yang mempertemukannya dengan beragam gagasan adalah Urban Social Forum (USF), forum terbuka bagi akademisi, mahasiswa, dan pegiat isu kota. Dari perjumpaan tersebut, ia melihat bahwa kepedulian terhadap isu perkotaan masih tumbuh di banyak tempat. Di tengah tantangan sosial politik yang ada, komunitas dan lembaga tetap bergerak, membangun jejaring, dan berkoalisi untuk mendorong perubahan di kota.
Bagi mahasiswa dan fresh graduate yang tertarik berkarier di NGO dan isu perkotaan, Tiara menyarankan untuk memanfaatkan masa kuliah dengan mendalami hal-hal yang diminati. Menurutnya, ilmu Sosiologi dapat menjadi bekal untuk memahami berbagai persoalan di lapangan. “Tidak ada subjek yang tidak ada kaitannya dengan sosiologi,” pesannya. Selain wawasan sosiologis, ia menilai kepekaan sosial serta kemampuan menulis dan jurnalistik yang diasah selama kuliah juga akan tetap relevan di dunia kerja.
Penulis: Iqbal Dwi Pamungkas
Editor: Rizky Murdiana









Lebih jauh untuk menghadapi kondisi tersebut, dimana terdapat tuntutan umum untuk menjadi kaya dan dermawan. Keterlibatan dalam Pentecostalism kemudian melahirkan jemaat yang memiliki semangat berwirausaha dan optimisme absolut terhadap kondisi ekonomi. Suatu kondisi yang sangat tepat untuk menghadapi kondisi ketidakpastian dan pasar kerja yang fleksibel. Aspirasi kuat untuk menjadi pribadi yang lebih baik secara ekonomi kemudian beresonansi sangat kuat dengan keinginan neoliberalisme. Adapun tekanan ini terpusat pada level individu, mengikuti dengan posisi gereja yang anti politik dan melihatnya sebagai permasalahan duniawi semata. Di sisi lain, terdapat usaha untuk menspritualisasikan masalah sosial dimana terdapat cara pandang theistic terhadap perubahan sosial. Hal ini nantinya akan mendorong pada perkembangan