Author: Admin

Mahasiswa Sosiologi UGM Perluas Wawasan Riset dan Kebijakan melalui Socio Visit 2026

Yogyakarta – Jakarta, 20 – 22 Mei 2026 — Keluarga Mahasiswa Sosiologi (KMS) FISIPOL UGM menyelenggarakan kegiatan “Socio Visit 2026” dengan mengusung tema “Mapping the Future”. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk mengenal lebih dekat dunia riset, kebijakan publik, dan pengembangan organisasi mahasiswa melalui rangkaian kunjungan institusional dan studi banding. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak untuk melihat secara langsung bagaimana perspektif sosiologi diterapkan dalam praktik kerja profesional di berbagai lembaga nasional.

Selama kegiatan berlangsung, peserta melakukan kunjungan ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia. Dalam kunjungan ke BRIN, mahasiswa memperoleh pemahaman mengenai ekosistem riset nasional, peran penelitian sosial dalam membaca fenomena masyarakat, serta peluang pengembangan karier sosiolog di bidang riset dan kebijakan publik. Sementara itu, melalui kunjungan ke Kementerian Ketenagakerjaan, peserta mendapatkan gambaran mengenai dinamika ketenagakerjaan, regulasi perlindungan tenaga kerja, hingga proses penyusunan kebijakan publik di Indonesia.

Selain kunjungan kelembagaan, Socio Visit 2026 juga menghadirkan agenda studi banding bersama Himpunan Mahasiswa Sosiologi Universitas Indonesia (HMS UI). Kegiatan ini menjadi ruang pertukaran wawasan mengenai budaya akademik, pengelolaan organisasi mahasiswa, dan pengembangan jejaring kolaboratif antar mahasiswa Sosiologi dari kedua universitas. Melalui diskusi dan audiensi yang berlangsung, peserta tidak hanya belajar mengenai sistem organisasi mahasiswa di kampus lain, tetapi juga membangun relasi dan pengalaman baru dalam lingkungan akademik yang berbeda.

Secara lebih luas, Socio Visit 2026 menjadi upaya mahasiswa Sosiologi UGM dalam memperluas perspektif terhadap dunia profesional sekaligus memetakan kemungkinan masa depan karier di bidang riset, kebijakan publik, maupun organisasi sosial. Melalui tema “Mapping the Future”, kegiatan ini diharapkan mampu mendorong mahasiswa untuk lebih siap menghadapi dunia kerja, membangun wawasan kritis, dan menghubungkan pengalaman akademik dengan praktik sosial di lapangan.

Penulis: Iqbal Dwi Pamungkas

Read More »

Nobar dan Diskusi Film Pesta Babi: Ruang Solidaritas Papua untuk Kedaulatan Tanah, Pangan, dan Kehidupan

Yogyakarta – Selasa, 12 Mei 2026, Auditorium FISIPOL UGM Lt. 4, menjadi ruang berkumpulnya mahasiswa, masyarakat sipil, dan masyarakat adat Papua dalam agenda bertajuk “Ruang Solidaritas Papua untuk Kedaulatan Tanah, Pangan, dan Kehidupan”. Kegiatan ini dikemas melalui nobar dan diskusi film Pesta Babi yang menghadirkan Bagus Sulistiono (PPPK FISIPOL UGM), Made Supriatma (ISEAS Yusof Ishak Institute), dan Herni sebagai Petani Perempuan. Acara ini diselenggarakan sebagai ruang refleksi dan solidaritas untuk membicarakan situasi Papua yang hingga kini masih menghadapi berbagai bentuk eksploitasi melalui proyek pembangunan, investasi, serta ekspansi industri ekstraktif yang terus berlangsung di berbagai wilayah Papua.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan pameran dan live sablon yang berlangsung di selasar depan auditorium. Pameran tersebut menampilkan berbagai visual dan narasi mengenai situasi sosial-politik di Papua, sementara live sablon menjadi medium ekspresi solidaritas yang melibatkan peserta kegiatan secara langsung. Acara kemudian dibuka oleh Ainun Najwa sebagai host dan dilanjutkan dengan bersama-sama menyaksikan pemutaran film Pesta Babi yang menjadi potret perjuangan masyarakat Papua dalam mempertahankan ruang hidup di tengah kepungan kapitalisme ekstraktif dan kolonialisme modern yang dilegitimasi negara. Kegiatan ini dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh ‘Corong Api’ yang mengangkat berbagai persoalan kemanusiaan dan perjuangan masyarakat Papua dan disambung dengan penampilan musik kebudayaan dari ‘Membesak’ yang membawakan beberapa lagu tentang Papua sebagai bentuk ekspresi budaya dan solidaritas terhadap perjuangan masyarakat Papua.

Dalam sesi diskusi, para pembicara menyoroti bagaimana ekspansi Proyek Strategis Nasional (PSN), pertambangan, perkebunan, dan pembangunan infrastruktur di Papua telah menghadirkan berbagai persoalan sosial dan ekologis bagi masyarakat adat. Di balik narasi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang terus diproduksi negara, masyarakat Papua justru dihadapkan pada perampasan tanah, kerusakan lingkungan, hilangnya sumber pangan, hingga kriminalisasi yang berlangsung secara sistematis. Tanah yang selama ini menjadi ruang hidup masyarakat adat perlahan berubah menjadi ruang produksi kapital yang dikuasai negara dan korporasi. Situasi tersebut menunjukkan bahwa pembangunan tidak hanya membawa dampak ekonomi, tetapi juga memengaruhi keberlangsungan budaya, relasi sosial, serta kehidupan masyarakat adat Papua yang selama ini memiliki ketertarikan kuat dengan tanah dan alam sebagai sumber kehidupan mereka.

Film Pesta Babi yang diputar dalam kegiatan ini menjadi gambaran tentang perjuangan masyarakat Papua dalam mempertahankan ruang hidup di tengah kepungan kapitalisme ekstraktif dan kolonialisme modern yang dilegitimasi negara. Melalui film tersebut, peserta diajak melihat bahwa konflik di Papua tidak hanya berkaitan dengan persoalan keamanan dan politik, tetapi juga menyangkut perebutan ruang hidup, sumber daya alam, dan hak masyarakat adat untuk menentukan masa depan mereka sendiri. Selain sesi diskusi, kegiatan ini juga menghadirkan tanggapan dari masyarakat adat Papua wilayah Meepago, Lapago, dan Animha, serta Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) yang membagikan pengalaman dan suara perjuangan mereka secara langsung.

Melalui kegiatan ini,  peserta diajak membangun solidaritas dan kesadaran kritis terhadap berbagai persoalan yang terjadi di Papua serta memahami bahwa pembangunan tidak selalu berjalan seiring dengan keadilan sosial dan ekologis bagi masyarakat lokal. Ruang diskusi yang dihadirkan tidak hanya menjadi tempat bertukar gagasan dan pengalaman, tetapi juga menjadi upaya untuk menghadirkan suara masyarakat adat Papua di tengah dominasi narasi pembangunan yang sering kali mengabaikan keberlangsungan tanah, lingkungan, dan kehidupan rakyat Papua.

Penulis: Iqbal Dwi Pamungkas

Editor: Rizky Murdiana

Read More »

Public Lecture “Gender, Agama, dan Filantropi: Perspektif Multikultural”

Yogyakarta – Senin, 11 Mei 2026, Departemen Sosiologi FISIPOL UGM kembali menyelenggarakan kuliah tamu dalam mata kuliah Sosiologi Agama, Identitas, dan Kewargaan. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Indah Piliyanti, S.Ag., M.Si. dari UIN Raden Mas Said Surakarta sebagai dosen tamu dengan materi bertajuk “Gender, Agama, dan Filantropi: Perspektif Multikultural”.

Dalam perkuliahan tersebut, mahasiswa diajak melihat filantropi tidak hanya sebagai praktik amal, tetapi juga sebagai praktik sosial yang berkaitan dengan relasi kuasa, legitimasi, dan distribusi otoritas dalam masyarakat. Mengacu pada pemikiran Emile Durkheim dan Marcel Mauss, Dr. Indah menjelaskan bahwa filantropi berperan dalam membangun solidaritas sosial sekaligus membentuk hubungan timbal balik di masyarakat. Melalui materi “Filantropi sebagai Ruang Kuasa”, mahasiswa diajak memahami bahwa lembaga filantropi memiliki peran penting dalam menentukan arah distribusi bantuan sosial karena didukung oleh legitimasi moral-keagamaan, struktur organisasi, dan akses terhadap sumber daya.

Diskusi kemudian berlanjut pada pengelolaan lembaga filantropi Islam di Indonesia, khususnya BAZNAS dan LAZ. Dr. Indah menunjukkan bahwa perempuan masih minim berada di posisi strategis meskipun memiliki keterlibatan tinggi dalam aktivitas sosial dan pelaksanaan program. Mahasiswa juga diajak mendiskusikan perbedaan antara partisipasi dan kepemimpinan perempuan dalam organisasi sosial-keagamaan. Menurutnya, ketimpangan tersebut dipengaruhi oleh struktur sosial, budaya patriarki, interpretasi agama, dan sistem kelembagaan yang masih membatasi akses perempuan terhadap posisi pengambilan keputusan.

Selain itu, kuliah tamu ini turut mengangkat studi kasus kepemimpinan perempuan di Gereja Katolik Keuskupan Ruteng, Flores. Temuan penelitian menunjukkan bahwa perempuan aktif dalam berbagai aktivitas gereja, tetapi masih minim hadir dalam jabatan strategis. Pada bagian akhir perkuliahan, Dr. Indah Piliyanti menjelaskan pendekatan Maqāṣid al-Sharī‘ah sebagai kerangka untuk membaca persoalan keadilan gender dalam lembaga filantropi Islam dengan menekankan prinsip keadilan sosial dan kemaslahatan bersama.

Melalui kuliah tamu ini, mahasiswa memperoleh pemahaman mengenai keterkaitan antara agama, gender, identitas, dan relasi kuasa dalam praktik filantropi. Diskusi yang berlangsung juga membuka ruang refleksi kritis mengenai pentingnya keadilan dan inklusivitas dalam institusi sosial dan keagamaan.

Penulis: Iqbal Dwi Pamungkas

Read More »

Belajar dari Desa: Departemen Sosiologi Gelar Kuliah Metode Kualitatif di Desa Sendangrejo, Kecamatan Minggir, Sleman

Yogyakarta – Sabtu 9 Mei 2026, Departemen Sosiologi menyelenggarakan kuliah lapangan metode penelitian kualitatif di Desa Sendangrejo, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman. Pada kegiatan ini, mahasiswa S2 dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk melakukan wawancara dengan masyarakat desa sesuai tema yang telah ditentukan. Selama kegiatan lapangan berlangsung, mahasiswa didampingi oleh dosen pengampu, yaitu Prof. Dr. Suharko, Dr. Suharman dan Dewi Cahyani Puspitasari, Ph.D.

Kegiatan ini diawali dengan upacara pembukaan dan sambutan yang dihadiri oleh Herjanto, selaku Kepala Desa dan Sekretaris Desa, Dira Nur Rakhmawati, S.Sos.. Pada kesempatan tersebut, Dr. Suharman menyampaikan sambutan sekaligus ucapan terima kasih kepada pemerintah Desa Sendangrejo atas izin dan dukungan yang diberikan untuk pelaksanaan kegiatan kuliah lapangan ini.

Dalam sambutannya, Dr. Suharman menyampaikan bahwa, “kuliah lapangan ini sudah menjadi tradisi di Departemen Sosiologi. Menariknya, kali ini pemilihan lokasi berbasis potensi desa,  dan Desa Sendangrejo memiliki keunggulan di bidang pertanian.” Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Desa Sendangrejo dipilih tidak hanya sebagai lokasi kegiatan, tetapi juga sebagai ruang belajar yang memiliki potensi sosial dan ekonomi yang relevan dengan kajian sosiologi.

Selanjutnya, Kepala Desa memberikan sambutan sekaligus ucapan selamat datang kepada seluruh peserta kegiatan. Ia menyampaikan harapannya agar kegiatan kuliah lapangan ini dapat memberikan manfaat, baik bagi mahasiswa maupun masyarakat melalui pertukaran pengetahuan dan pengalaman di lapangan.

Setelah sesi pembukaan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan agenda utama berupa wawancara dan observasi langsung bersama berbagai kelompok masyarakat di Desa Sendangrejo. Para peserta melakukan wawancara dengan petani muda, Kelompok Wanita Tani (KWT), penjual jamu tradisional, hingga pemerintah desa.

Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh gambaran mengenai dinamika sosial masyarakat, potensi pertanian desa, peran ekonomi rumah tangga, serta berbagai bentuk pemberdayaan masyarakat yang berkembang di Desa Sendangrejo.

Penulis : Rizky Murdiana

Read More »

Public Lecture Cinematic Sociology and Youth Culture

Yogyakarta – Selasa 5 Mei 2026, Departemen Sosiologi kembali menyelenggarakan public lecture bertajuk “Cinematic Sociology and Youth Culture” yang menghadirkan Budi Irawanto, M.A., Ph.D. sebagai Dosen Tamu. Kegiatan ini merupakan bagian dari mata kuliah Mobilitas Global, Kewargaan, dan Budaya Kaum Muda, sekaligus menjadi ruang diskusi akademik yang mempertemukan kajian sosiologi dengan budaya populer, khususnya film, dalam membaca dinamika kehidupan kaum muda.

Dalam perkuliahan ini, mahasiswa diajak untuk melihat film dari sudut pandang yang lebih reflektif, tidak sekadar sebagai hiburan, tetapi sebagai medium yang menyimpan berbagai lapisan makna sosial. Sebagaimana disampaikan dalam kuliah tersebut, “film merupakan data sosiologis yang sangat kaya dan sangat lengkap untuk membaca kehidupan sosial” . Melalui film, realitas sosial tidak hanya direpresentasikan, tetapi juga dinegosiasikan dan bahkan dipertanyakan kembali, sehingga menjadi pintu masuk yang relevan untuk memahami keterkaitan antara pengalaman individu dengan struktur sosial yang lebih luas.

Pendekatan sosiologis terhadap film menekankan bahwa setiap narasi tidak berdiri sendiri, melainkan selalu berada dalam konteks sosial, ekonomi, dan historis tertentu. Hal ini sejalan dengan gagasan bahwa “Sosiologi pada dasarnya melihat relasi antara biografi dan history” , di mana cerita personal dalam film dapat dibaca sebagai refleksi dari kondisi sosial yang lebih besar. Di sisi lain, film juga memiliki peran signifikan dalam kehidupan kaum muda, terutama sebagai ruang interaksi dan pembentukan identitas melalui praktik menonton secara kolektif. Aktivitas ini tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga medium bersosialisasi, bertukar makna, dan mengikuti perkembangan budaya populer. Namun demikian, film juga perlu dipahami sebagai produk industri, karena “film bukan sekadar karya kreatif, tetapi juga komoditas dalam relasi ekonomi dan industri” , sehingga proses produksi dan distribusinya tidak lepas dari logika pasar dan kepentingan tertentu.

Salah satu peserta Public Lecture, Ayenni Afriyani, mahasiswa Magister Sosiologi angkatan 2025, mengungkapkan bahwa materi yang disampaikan memberikan pengalaman belajar yang baru baginya. Ia mengaku belum pernah menemukan pembahasan serupa dalam perkuliahan sebelumnya, termasuk referensi buku maupun film yang direkomendasikan, sehingga pembelajaran ini mendorongnya untuk mengeksplorasi lebih jauh.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya diajak memahami teori, tetapi juga dilatih untuk membaca realitas sosial secara lebih kritis dan reflektif, khususnya dalam konteks budaya kaum muda yang terus berkembang.

Penulis: Iqbal Dwi Pamungkas

Editor: Rizky Murdiana

Read More »

Belajar Sejarah di Luar Kelas: Departemen Sosiologi Gelar Kuliah Lapangan di Museum Kahar Muzakkir

Yogyakarta – Jumat 01 Mei 2026, Departemen Sosiologi menyelenggarakan kuliah lapangan kelas Sejarah Sosial Politik Indonesia di Museum Kahar Muzzakir. Kegiatan ini dirancang sebagai ruang pembelajaran kontekstual yang mempertemukan mahasiswa secara langsung dengan warisan sejarah pergerakan nasional Indonesia. Karenanya, tema yang diangkat adalah pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Fokus tujuan dalam kunjungan ini adalah menyelami peran Prof. Abdul Kahar Muzakkir sebagai salah satu tokoh bangsa yang terlibat aktif dalam tiga forum penentu kemerdekaan: BPUPKI, Panitia Sembilan dan PPKI. Melalui koleksi dan dokumentasi yang tersimpan di museum, mahasiswa diajak menelusuri latar sosial, perjalanan hidup, serta kontribusi nyata seorang pemuda di masa-masa paling menentukan dalam sejarah Indonesia. 

Sepanjang kegiatan, mahasiswa terlibat dalam serangkaian aktivitas yang dirancang untuk mendorong keterlibatan aktif dalam kelas. Tur museum tematik membawa mereka menelusuri koleksi sejarah pergerakan nasional, kolonialisme, dan perjuangan kemerdekaan secara langsung. Sesi presentasi dan diskusi kelompok kemudian menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memaparkan kajian mereka tentang pergerakan nasional sekaligus mengaitkannya dengan kondisi dunia kontemporer. Sebagai penutup, mahasiswa diminta menyelesaikan tugas refleksi terkait pandangan mereka sebagai generasi muda yang tengah menyaksikan perubahan global yang pesat, serta memaknai relevansi perjuangan masa lalu bagi masa depan yang mereka hadapi. 

Melalui pendekatan pembelajaran berbasis tempat (place-based learning), kuliah lapangan ini menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa bahwa semangat berkontribusi yang diterapkan para tokoh pergerakan tetap relevan dan dapat diwujudkan melalui aktualisasi diri yang bermakna di zaman modern. 

Penulis: Ilham Ramadhan

Editor: Rizky Murdiana

Read More »

Public Lecture The Economics of Pentecostal/Charismatic Christiniaty

 

Yogyakarta – Rabu 22 April 2026, Departemen Sosiologi menyelenggarakan public lecture bersama Professor Martin Lindhardt dari University of Southern Denmark. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program Visiting Scholar Professor Martin di Departemen Sosiologi. Pada kesempatan kali ini, Professor Martin memaparkan materi dengan tajuk “the economic of Pentecostal/Charismatic Christianity.”

Professor Martin memulai diskusi dengan memberikan pengantar terkait pentecostalism sebagai fenomena kekristenan global serta signifikansinya pada isu-isu sosial-ekonomi dan agama. Secara statistik, jumlah penganut pentecostals berjumlah sekitar 584 juta orang dari total 2 miliar orang beragama kristen, menyumbang 30% dari total umat beragama kristen. Adapun persebaran penganut pentecostals terpusat pada populasi di Afrika dan Amerika latin. Melalui data tersebut Professor Martin menggarisbawahi relasi Pentecostalism dan globalisasi, dimana terdapat tren Pentecostalism menjadi agama global. Selain itu, Ia juga memaparkan analisis terkait struktur yang mendorong Pentecostalism hingga dapat bergerak menjadi sedemikian rupa. 

Merujuk pada Thomas Csordas, agama dapat berkembang jauh disebabkan dari praktik ibadah yang ringkas, pesan-pesan agama yang fleksibel, dan seringkali berfokus pada masyarakat kelas bawah terutama pada perempuan. Professor Martin membedah struktur ekonomi yang melatarbelakangi hal tersebut melalui etika protestan, semangat kapitalisme pada umat kristen, dan mentalitas injil kemakmuran yang meyakini Tuhan menjanjikan kekayaan materi, kesehatan fisik dan kebahagiaan bagi orang beriman. Partisipasi jemaat pada Gereja Pentecostal mendorong timbulnya prioritas ekonomi baru, disiplin dan inisiatif. Terdapat juga kecenderungan terutama bagi laki-laki menjadi lebih domestik dan mengambil peran keluarga dengan lebih kuat. 

Lebih jauh untuk menghadapi kondisi tersebut, dimana terdapat tuntutan umum untuk menjadi kaya dan dermawan. Keterlibatan dalam Pentecostalism kemudian melahirkan jemaat yang memiliki semangat berwirausaha dan optimisme absolut terhadap kondisi ekonomi. Suatu kondisi yang sangat tepat untuk menghadapi kondisi ketidakpastian dan pasar kerja yang fleksibel. Aspirasi kuat untuk menjadi pribadi yang lebih baik secara ekonomi kemudian beresonansi sangat kuat dengan keinginan neoliberalisme. Adapun tekanan ini terpusat pada level individu, mengikuti dengan posisi gereja yang anti politik dan melihatnya sebagai permasalahan duniawi semata. Di sisi lain, terdapat usaha untuk menspritualisasikan masalah sosial dimana terdapat cara pandang theistic terhadap perubahan sosial. Hal ini nantinya akan mendorong pada perkembangan prosperity gospel yang berfokus pada kesejahteraan sebagai medium penyebaran agama. Uang maupun manfaat materil lain kemudian menjadi sesuatu yang sangat personal antara tuhan dan individu, termasuk didalamnya praktik memperkaya diri sendiri. Kesejahteraan material seperti memiliki kekayaan pada taraf tertentu serta nonmaterial yang ditandai dengan kesehatan dan keharmonisan rumah tangga menjadi penanda dari perkembangan spiritual masing-masing jemaat.

Public lecture ini ditutup dengan kesimpulan bahwa perkembangan prosperity theology yang dibawa oleh Pentecostalism mendukung kondisi-kondisi Neoliberal kapitalisme. Lebih lanjut dorongan positif terhadap kepemilikan material bergeser dari yang sebelumnya ditujukan untuk pengembangan aktivitas kekristenan menjadi penguntungan pada beberapa individu semata. Diskusi lebih lanjut merefleksikan bagaimana kondisi-kondisi tersebut berkaitan dengan praktik-praktik yang ada di Indonesia.

 

 

Read More »

Workshop on Data Analysis-Thematic Analysis and its use in the Study of Pentecostal

 

Yogyakarta – Kamis, 23 April 2026 Departemen Sosiologi menyelenggarakan Workshop data analisis bersama Professor Martin Lindhardt dari University of Southern Denmark. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program Visiting Scholar Professor Martin di Departemen Sosiologi. Pada kesempatan kali ini, Professor Martin membahas tentang bagaimana melakukan analisis tematik dan penggunaanya dalam risetnya yang berjudul “Pentecostal Representations of God.”

Sebelum memulai presentasi, Professor Martin terlebih dahulu menggarisbawahi    metode sebagai bagian yang sangat penting dalam melakukan analisis penelitian. Melalui penelitiannya tentang jemaat Pentekostal, Professor Martin menelusuri pola-pola makna yang muncul dari wawancara bersama informan yang ia temui. 

Sebagai introduksi, Professor Martin menjelaskan analisis tematik sebagai pengembangan dari analisis konten terutama analisis konten induktif. Analisis konten merupakan bentuk analisis yang digunakan untuk mengkaji materi tulisan dan visual. Analisis tematik menghitung frekuensi kemunculan kata dari satu tema yang muncul pada satu kelompok secara kolektif, dimana pada penelitiannya adalah tema yang berkaitan dengan representasi Tuhan. Proses analisis tematik mencakup beberapa tahap yaitu pembacaan data secara menyeluruh, pengembangan kode awal, pengelompokan kode menjadi tema yang lebih abstrak, hingga peninjauan dan penyempurnaan tema. Dalam studi ini, sejumlah kode dikelompokkan ke dalam tema besar seperti Tuhan sebagai teman dan Tuhan sebagai kekasih. Berdasarkan riset ini, gambaran mengenai sistem kepercayaan membentuk pengalaman sehari-hari individu. Secara metodologis presentasi riset ini menegaskan relevansi analisis tematik sebagai alat riset yang kuat untuk menangkap nuansa representasi sosial. 

Kegiatan ini ditutup dengan diskusi bersama antara peserta yang hadir. Salah satu pembahasan yang muncul adalah bagaimana metode berperan sama pentingnya dengan teori. Artinya, mengetahui cara pendekatan yang benar memungkinkan peneliti mendapatkan data yang lebih mendalam.

Penulis: Ilham Ramadhan

Editor: Rizky Murdiana

Read More »

Sharing Session “Digital sociology: Recent developments in the sociological study of relations between digital technologies and social life”

Yogyakarta – Senin, 20 April 2026, Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada menerima kunjungan Professor Martin Lindhardt dari Universitas Southern Denmark dalam rangka kegiatan Visiting Scholar. Pada kesempatan kali ini, Professor Martin berbagi penelitian terbarunya mengenai sosiologi digital dan relasinya dengan isu kesehatan.

Professor Martin mengawali diskusi dengan memberi sorotan bahwa bidang sosiologi digital tengah mengalami perkembangan pesat. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan teknologi digital ke dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, sektor kesehatan juga melakukan adaptasi beberapa instrumen digital seperti AI, smartwatch dan aplikasi dalam pelayanan medis. Mediasi oleh teknologi yang semakin intens ini, lambat laun menggeser otoritas kesehatan dari profesional/tenaga kesehatan menuju aplikasi digital. Hal ini ditandai dengan adanya perkembangan digitalisasi kesehatan dimana pasien terlibat aktif dalam produksi data digital kesehatan.

Praktik kuantifikasi diri, dimana pasien secara sadar melakukan pengawasan mandiri melalui berbagai perangkat menjadi umum dijumpai. Pengalaman tubuh kemudian termediasi melalui perangkat digital untuk melahirkan berbagai data yang menunjukkan indikator kesehatan individu. Lebih jauh, hal ini kemudian berdampak pada hilangnya kemampuan mengenali sinyal tubuh secara langsung. Kondisi ini merupakan bentuk ketergantungan pada perangkat digital.

Pada penelitiannya, Professor Martin melihat praktik penggunaan perangkat digital kepada perempuan hamil. Temuannya adalah, penggunaan aplikasi yang intens menciptakan kewaspadaan berlebih terhadap pengalaman mengandung. Hal ini meningkatkan keinginan untuk selalu mendapatkan informasi yang “benar” terkait perubahan kondisi tubuh. Konsekuensinya adalah perempuan akan selalu berada dalam kondisi khawatir berlebih dikarenakan aplikasi memberikan indikator-indikator yang harus dipenuhi. Pengalaman ini berkontribusi pada fenomena di mana informasi berubah menjadi beban; informasi yang disajikan aplikasi terasa mendikte dan memengaruhi cara pengguna memaknainya.

Pada analisis akhir, Professor Martin menjelaskan bagaimana aplikasi dapat menjadi sangat dominan. Proses intimatization yang terjadi antara pengguna dan aplikasi mendorong pada terbentuknya agensi pada suatu teknologi. Hal ini menggambarkan situasi di mana aplikasi memiliki kuasa seiring dengan peningkatan intensitas penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Aplikasi dan informasi adalah pedang bermata dua, di mana ia memberikan fondasi kepada individu untuk mengatur kesehatan mereka sendiri, namun di sisi lain mendominasi cara pengguna untuk memahami pengalaman kesehatan mereka sendiri.

Sharing session kemudian diakhiri dengan diskusi dan tanya jawab di forum. Diskusi ini banyak membahas terkait relevansi penelitian tersebut pada mata kuliah Sosiologi Kesehatan. Topik terkait pengaruh teknologi dengan sektor kesehatan menjadi penting untuk muncul di kurikulum kuliah. Metode penelitian dan data analisis juga menjadi poin menarik, terutama dalam membaca interpretasi pengalaman penggunaan teknologi dan kesehatan di kehidupan sehari-hari.

Penulis: Ilham Ramadhan

Editor: Rizky Murdiana

Read More »

Meneladani Sosok Inspiratif Haedar Nashir dalam Memperkuat Moderasi Beragama

Departemen Sosiologi berkolaborasi bersama Social Research Center (SOREC) UGM dan IBTimes.ID dalam menyelenggarakan diskusi dan bedah buku “Jalan Baru Moderasi Beragama: Mensyukuri 66 Tahun Haedar Nashir” pada Selasa (23/4). Acara ini dilaksanakan di Ruang Auditorium Lantai 4 FISIPOL UGM dan dihadiri langsung oleh Prof. Dr. KH. Haedar Nashir, Prof. Dr. Siti Ruhaini Dzuhayatin, M.A., Prof. Dr. Sugeng Bayu Wahyono, Dr. Muhammad Najib Azca, dan Pdt. Izak Lattu, Ph.D.

Buku yang berisi tulisan para tokoh dari berbagai elemen ini didedikasikan khusus kepada Prof. Haedar Nashir sebagai bentuk syukur atas Milad ke-66 beliau. Sosok Prof. Haedar Nashir dikenal sebagai ideolog dan “kamus hidup” Muhammadiyah sekaligus agamawan dengan karakter moderat dalam pemikiran juga tindakan.

Pada sesi diskusi dan bedah buku tersebut, Prof. Haedar Nashir menyampaikan gagasannya perihal moderasi beragama. “Sebenarnya mau moderat, mau tengahan, atau wasathiyah, itu tergantung pada esensi, pemaknaan dan konstruksinya. Semua konstruksi sah, asal terbuka untuk didialogkan. Menjadi masalah ketika monolitik dan lalu menjudge pemikiran yang berbeda menjadi salah, sesat, dan sebagainya,” ungkap Prof. Haedar Nashir.

Hal ini turut disepakati oleh Prof. Ruhaini, “Pemikiran Muhammadiyah menjadi tidak tunggal, ada spektrum, keragaman ada heterogenitas. Baik itu dalam pemikiran, tindakan, ataupun sikap. Prof. Haedar berada di tengah dan memiliki kekuatan dalam menghela (kelompok) sisi kiri & kanan untuk ke tengah.”

Senada dengan Prof. Ruhaini, Pdt. Izak Lattu juga menyampaikan betapa kagumnya beliau akan sosok Haedar Nashir. Menurutnya, sosok Haedar Nashir tidak hanya merangkul berbagai kelompok dalam Muhammadiyah atau lingkup agama Islam saja, melainkan turut berkolaborasi dengan elemen dari agama-agama lain. Melalui buku ini, pembaca dapat memahami bagaimana perjalanan Prof. Haedar dalam merangkul berbagai aliran pemikiran yang kemudian beliau dinamiskan kearah lebih moderat.

Disamping membahas substansi secara garis besar, para pembicara turut mendiskusikan buku tersebut dengan sudut pandang realitas. Sebagaimana disampaikan Prof. Sugeng terkait pandangannya mengenai implementasi moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari yang tentu saja masih terdapat banyak perbedaan. “Jadi yang namanya moderasi beragama, inklusif, itu perlu dibuktikan sampe ke bawah.” ujar Prof. Sugeng.

Sejalan dengan Prof. Sugeng, Dr. Najib Azca turut mengupas buku tersebut dengan menjadikan Sosiologi sebagai alat baca. “Beliau melihat bahwa problem moderasi bukan hanya problem agama kira-kira gitu. Problem moderasi adalah problem kebangsaan, dalam arti kita bisa menciptakan ekstremitas karena diskriminasi misalnya. Salah-salah bisa membangun radikalisme. Jadi moderasi adalah bagaimana kita merangkul keseluruhannya,” tutur Dr. Najib Azca.

Penulis: Farizqa A P

Editor: Andi Firmansah

Read More »