Yogyakarta – Senin, 11 Mei 2026, Departemen Sosiologi FISIPOL UGM kembali menyelenggarakan kuliah tamu dalam mata kuliah Sosiologi Agama, Identitas, dan Kewargaan. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Indah Piliyanti, S.Ag., M.Si. dari UIN Raden Mas Said Surakarta sebagai dosen tamu dengan materi bertajuk “Gender, Agama, dan Filantropi: Perspektif Multikultural”.
Dalam perkuliahan tersebut, mahasiswa diajak melihat filantropi tidak hanya sebagai praktik amal, tetapi juga sebagai praktik sosial yang berkaitan dengan relasi kuasa, legitimasi, dan distribusi otoritas dalam masyarakat. Mengacu pada pemikiran Emile Durkheim dan Marcel Mauss, Dr. Indah menjelaskan bahwa filantropi berperan dalam membangun solidaritas sosial sekaligus membentuk hubungan timbal balik di masyarakat. Melalui materi “Filantropi sebagai Ruang Kuasa”, mahasiswa diajak memahami bahwa lembaga filantropi memiliki peran penting dalam menentukan arah distribusi bantuan sosial karena didukung oleh legitimasi moral-keagamaan, struktur organisasi, dan akses terhadap sumber daya.
Diskusi kemudian berlanjut pada pengelolaan lembaga filantropi Islam di Indonesia, khususnya BAZNAS dan LAZ. Dr. Indah menunjukkan bahwa perempuan masih minim berada di posisi strategis meskipun memiliki keterlibatan tinggi dalam aktivitas sosial dan pelaksanaan program. Mahasiswa juga diajak mendiskusikan perbedaan antara partisipasi dan kepemimpinan perempuan dalam organisasi sosial-keagamaan. Menurutnya, ketimpangan tersebut dipengaruhi oleh struktur sosial, budaya patriarki, interpretasi agama, dan sistem kelembagaan yang masih membatasi akses perempuan terhadap posisi pengambilan keputusan.
Selain itu, kuliah tamu ini turut mengangkat studi kasus kepemimpinan perempuan di Gereja Katolik Keuskupan Ruteng, Flores. Temuan penelitian menunjukkan bahwa perempuan aktif dalam berbagai aktivitas gereja, tetapi masih minim hadir dalam jabatan strategis. Pada bagian akhir perkuliahan, Dr. Indah Piliyanti menjelaskan pendekatan Maqāṣid al-Sharī‘ah sebagai kerangka untuk membaca persoalan keadilan gender dalam lembaga filantropi Islam dengan menekankan prinsip keadilan sosial dan kemaslahatan bersama.
Melalui kuliah tamu ini, mahasiswa memperoleh pemahaman mengenai keterkaitan antara agama, gender, identitas, dan relasi kuasa dalam praktik filantropi. Diskusi yang berlangsung juga membuka ruang refleksi kritis mengenai pentingnya keadilan dan inklusivitas dalam institusi sosial dan keagamaan.
Penulis: Iqbal Dwi Pamungkas
Lebih jauh untuk menghadapi kondisi tersebut, dimana terdapat tuntutan umum untuk menjadi kaya dan dermawan. Keterlibatan dalam Pentecostalism kemudian melahirkan jemaat yang memiliki semangat berwirausaha dan optimisme absolut terhadap kondisi ekonomi. Suatu kondisi yang sangat tepat untuk menghadapi kondisi ketidakpastian dan pasar kerja yang fleksibel. Aspirasi kuat untuk menjadi pribadi yang lebih baik secara ekonomi kemudian beresonansi sangat kuat dengan keinginan neoliberalisme. Adapun tekanan ini terpusat pada level individu, mengikuti dengan posisi gereja yang anti politik dan melihatnya sebagai permasalahan duniawi semata. Di sisi lain, terdapat usaha untuk menspritualisasikan masalah sosial dimana terdapat cara pandang theistic terhadap perubahan sosial. Hal ini nantinya akan mendorong pada perkembangan