Yogyakarta – Selasa, 12 Mei 2026, Auditorium FISIPOL UGM Lt. 4, menjadi ruang berkumpulnya mahasiswa, masyarakat sipil, dan masyarakat adat Papua dalam agenda bertajuk “Ruang Solidaritas Papua untuk Kedaulatan Tanah, Pangan, dan Kehidupan”. Kegiatan ini dikemas melalui nobar dan diskusi film Pesta Babi yang menghadirkan Bagus Sulistiono (PPPK FISIPOL UGM), Made Supriatma (ISEAS Yusof Ishak Institute), dan Herni sebagai Petani Perempuan. Acara ini diselenggarakan sebagai ruang refleksi dan solidaritas untuk membicarakan situasi Papua yang hingga kini masih menghadapi berbagai bentuk eksploitasi melalui proyek pembangunan, investasi, serta ekspansi industri ekstraktif yang terus berlangsung di berbagai wilayah Papua.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan pameran dan live sablon yang berlangsung di selasar depan auditorium. Pameran tersebut menampilkan berbagai visual dan narasi mengenai situasi sosial-politik di Papua, sementara live sablon menjadi medium ekspresi solidaritas yang melibatkan peserta kegiatan secara langsung. Acara kemudian dibuka oleh Ainun Najwa sebagai host dan dilanjutkan dengan bersama-sama menyaksikan pemutaran film Pesta Babi yang menjadi potret perjuangan masyarakat Papua dalam mempertahankan ruang hidup di tengah kepungan kapitalisme ekstraktif dan kolonialisme modern yang dilegitimasi negara. Kegiatan ini dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh ‘Corong Api’ yang mengangkat berbagai persoalan kemanusiaan dan perjuangan masyarakat Papua dan disambung dengan penampilan musik kebudayaan dari ‘Membesak’ yang membawakan beberapa lagu tentang Papua sebagai bentuk ekspresi budaya dan solidaritas terhadap perjuangan masyarakat Papua.
Dalam sesi diskusi, para pembicara menyoroti bagaimana ekspansi Proyek Strategis Nasional (PSN), pertambangan, perkebunan, dan pembangunan infrastruktur di Papua telah menghadirkan berbagai persoalan sosial dan ekologis bagi masyarakat adat. Di balik narasi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang terus diproduksi negara, masyarakat Papua justru dihadapkan pada perampasan tanah, kerusakan lingkungan, hilangnya sumber pangan, hingga kriminalisasi yang berlangsung secara sistematis. Tanah yang selama ini menjadi ruang hidup masyarakat adat perlahan berubah menjadi ruang produksi kapital yang dikuasai negara dan korporasi. Situasi tersebut menunjukkan bahwa pembangunan tidak hanya membawa dampak ekonomi, tetapi juga memengaruhi keberlangsungan budaya, relasi sosial, serta kehidupan masyarakat adat Papua yang selama ini memiliki ketertarikan kuat dengan tanah dan alam sebagai sumber kehidupan mereka.
Film Pesta Babi yang diputar dalam kegiatan ini menjadi gambaran tentang perjuangan masyarakat Papua dalam mempertahankan ruang hidup di tengah kepungan kapitalisme ekstraktif dan kolonialisme modern yang dilegitimasi negara. Melalui film tersebut, peserta diajak melihat bahwa konflik di Papua tidak hanya berkaitan dengan persoalan keamanan dan politik, tetapi juga menyangkut perebutan ruang hidup, sumber daya alam, dan hak masyarakat adat untuk menentukan masa depan mereka sendiri. Selain sesi diskusi, kegiatan ini juga menghadirkan tanggapan dari masyarakat adat Papua wilayah Meepago, Lapago, dan Animha, serta Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) yang membagikan pengalaman dan suara perjuangan mereka secara langsung.
Melalui kegiatan ini, peserta diajak membangun solidaritas dan kesadaran kritis terhadap berbagai persoalan yang terjadi di Papua serta memahami bahwa pembangunan tidak selalu berjalan seiring dengan keadilan sosial dan ekologis bagi masyarakat lokal. Ruang diskusi yang dihadirkan tidak hanya menjadi tempat bertukar gagasan dan pengalaman, tetapi juga menjadi upaya untuk menghadirkan suara masyarakat adat Papua di tengah dominasi narasi pembangunan yang sering kali mengabaikan keberlangsungan tanah, lingkungan, dan kehidupan rakyat Papua.
Penulis: Iqbal Dwi Pamungkas
Editor: Rizky Murdiana